Tuesday, November 18, 2008

Walking without Expectation


Saya tidur terlentang di sebuah kamar kos-kosan. Rasanya penat sekali, seluruh urat syaraf mengendor jatuh, tapi itu tak mampu membuat saya tertidur. Kipas angin yang semilirpun hanya mampu mengurangi keringat saya karena udara panas malam ini. Mata saya terpejam, 2 telinga saya berbagi dengan suara iklan-iklan di TV dan cerita cinta yang gagal (menurut si pencerita). Berusaha tetap fokus pada subyek cerita sang penderita cinta walau kondisi sedang setengah mampus.
Ini cerita tentang hubungan 2 insan yang ditentang orang tua. Akhirnya sang kekasihpun menurut kepada titah orangtua meninggalkan si pencerita ini dengan segudang pembenaran-pembenaran. Si pencerita memendam dendam hingga lubuk hati yang paling dalam. Dan menumpahkan ceritanya di saat malam semakin kelam. Walau saya hanya mendengarkan dengan mata terpejam. Bukan tak peduli, justru menghayati dan sudah mampu memprediksi hasilnya nanti kalau tidak mampu mengendalikan hati.
Kisah kasih yang tak sampai atau bubarnya sebuah hubungan cinta yang dikira, diharapkan, dipaksakan sampai atau happy ending, selalu ada dalam kehidupan sehari-hari seperti saya menikmati makan 3 x sehari dengan menu yang bervariasi.
Di cerita yang saya dengar kali ini, berdasarkan pengamatan dan yang pernah saya alami, kegagalan cinta seperti ini selalu berbuntut dengan rasa perih, sakit, sedih, kecewa... Tak ada kata yang sanggup menghibur karena kita sedang egois untuk minta didengarkan dan mengerti... ( bahkan untuk seseorang yang mengaku sudah dewasa dan mampu bersikap ikhlas ).
Maka saya hanya memilih diam mendengarkan cerita ini bergulir, tetap memejamkan mata, mencoba ikut merasakan kekecewaan si pencerita, mengingat-ingat rasa 3 bulan yang lalu dengan kasus yang sama dan menyimpulkan bahwa untuk mengurangi kekecewaan mungkin semua harus dilewati tanpa pengharapan...just walking without expectation...
Seperti menu makan malam kali ini, saya makan saja ikan bakar yang terhidang di meja, tanpa berharap besok ada menu yang sama lagi, dengan begitu seandainya makan ikan teripun saya masih bisa terima...masih bisa menikmati...
Karena expectation yang berlebihan akan menyakiti kita tanpa kita sadari,
sekali lagi......seperti yang sudah pernah saya alami...

Monday, November 3, 2008

ANALOGI MIXING & MASTERING

Akhir pekan kemarin, Digital Music University kantor tempat saya bekerja, mengadakan workshop Music Creation dan Mixing Analysis yang diadakan 3 hari berturut-turut di Mal Galaxy Surabaya. Untuk para penggemar musik, anak band, musisi, pecinta teknologi komputer mungkin tidak asing dengan acara ini.
Hal yang paling sulit adalah menjelaskan kepada pengunjung yang kurang atau benar-benar tidak paham apa itu music creation, mixing and mastering. Penjabaran suatu istilah dengan kata-kata yang mudahpun kadang masih kurang bisa mendekati tingkat pemahaman seseorang, maka seringkali disertai dengan contoh-contoh. Tapi tidak pernah terlintas di otak saya bahwa ilmu meramu musik ini bisa dianalogikan dengan cara memasak. Pertanyaan ini terlontar dari salah satu pengunjung yang ingin tahu posisi proses pembuatan musik ini bila disandingkan dengan proses pembuatan sup. Dan kurang lebih penjelasannya seperti ini :
- Music creation merupakan pengenalan dasar-dasar Digital Recording System dan mendidik para siswa agar mempunyai kemampuan untuk bisa mengaransemen musik dengan kreativitasnya sendiri ( arranger ).

Dalam memasak sup, ini sama dengan penyediaan bahan-bahan dasarnya seperti bumbu-bumbu dan cara memotong wortel, kentang, dll.

- Mixing merupakan pengenalan teknik dasar untuk proses mixing lagu (mulai dari teknik balancing sampai teknik sound separation ).

Dalam memasak sup, ini sama dengan cara meramu bahan-bahan dasar tadi (bumbu dan isinya) sehingga menjadi sup.

- Mixing merupakan pengajaran tentang teknik – teknik mastering kelas dunia dengan menggunakan software mastering terbaik atau cara finishing lagu.

Dalam memasak sup, ini sama dengan cara menyajikan sup yang sudah jadi tadi. Disajikan dengan mangkuk yang indah atau seadanya.

Pertanyaan sepele, tapi penting. Karena setiap orang mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda, dibutuhkan analogi yang mudah disesuaikan dengan si penanya. Ini sangat membantu dalam proses promosi, melatih kreatifitas dan toleransi dalam mensosialisasikan sebuah ilmu.