Showing posts with label experience. Show all posts
Showing posts with label experience. Show all posts

Thursday, September 23, 2010

foto box = kotak ajaib

Foto box atau kotak foto. Saya sangat terkagum-kagum waktu melihatnya di TV semasa kecil, saya bilang kotak itu kotak ajaib, kita masuk, pintu ditutup, berpose bebas trus menunggu beberapa menit dan foto kita langsung tercetak keluar. Membuat saya ingin memilikinya dan menaruhnya di rumah, haha lucu aja kali ya bisa foto tiap hari dengan siapa saja. Dengan orang tua, kakak, tetangga, teman, boneka kesayangan atau kucing-kucingku tercinta.
Suatu imajinasi yang sederhana :)

Waktu mencobanya pertama kali semasa kuliah kurang lebih 15 tahun yang lalu di salah satu mall di Surabaya, saya masih saja excited dengan keberadaan kotak foto ini. Tapi sudah tak ingin menaruh kotak itu dirumah, karena dengan kemampuan menganalisa memakai ilmu ekonomi yang baru saya dapatkan di kampus, kotak foto ini cukup mahal.belum harga kamera..belum kertas fotonya..belum alat cetaknya..belum tau juga mo taruh dimana..diteras? diruang keluarga? disebelah kulkas (karena bentuknya sama2 kotak trus kenapa juga ya?) atau dimana? whewww ribet..no way way..cukup bayar dan foto di mall aja..:D. Akhirnya foto box kadang jadi menu tambahan ketika saya dan teman-teman JJM (Jalan-jalan di Mall).

Sebulan yang lalu, setelah 10 tahun tak menyentuh foto box karena sudah marak dan murahnya digital camera, saya diajak lagi oleh sekawanan anak gaul SMA Surabaya (menurut mereka sih :D) dan seekor harimau kecil bernama jumbo untuk berfoto box ramai-ramai. Rasanya tetap menyenangkan dan buat saya foto box tetap sebuah kotak ajaib walau pikiran saya sudah tak sesederhana seperti waktu kecil lagi..walau saya sudah sering mencobanya berkali-kali dan melewati banyak masa.


Tapi kali ini saya sudah tak menilai dari mekanismenya lagi, rasa ajaib itu datang ketika kita ada didalamnya, berpose tanpa harus didikte, berekspresi bebas menjadi diri sendiri, berisik tanpa harus didiamkan, mengatur diri sendiri walau hanya dari skala kecil, kebebasan kilat yang terjadi dalam hitungan menit dan dicetak dalam ukuran mini juga, tapi mampu dikenang dalam album foto dalam waktu lama dan tak terbatas jika disimpan dalam hati....hanya dari satu moment kecil di kotak yang kecil..kotak ajaib :)


Tuesday, November 18, 2008

Walking without Expectation


Saya tidur terlentang di sebuah kamar kos-kosan. Rasanya penat sekali, seluruh urat syaraf mengendor jatuh, tapi itu tak mampu membuat saya tertidur. Kipas angin yang semilirpun hanya mampu mengurangi keringat saya karena udara panas malam ini. Mata saya terpejam, 2 telinga saya berbagi dengan suara iklan-iklan di TV dan cerita cinta yang gagal (menurut si pencerita). Berusaha tetap fokus pada subyek cerita sang penderita cinta walau kondisi sedang setengah mampus.
Ini cerita tentang hubungan 2 insan yang ditentang orang tua. Akhirnya sang kekasihpun menurut kepada titah orangtua meninggalkan si pencerita ini dengan segudang pembenaran-pembenaran. Si pencerita memendam dendam hingga lubuk hati yang paling dalam. Dan menumpahkan ceritanya di saat malam semakin kelam. Walau saya hanya mendengarkan dengan mata terpejam. Bukan tak peduli, justru menghayati dan sudah mampu memprediksi hasilnya nanti kalau tidak mampu mengendalikan hati.
Kisah kasih yang tak sampai atau bubarnya sebuah hubungan cinta yang dikira, diharapkan, dipaksakan sampai atau happy ending, selalu ada dalam kehidupan sehari-hari seperti saya menikmati makan 3 x sehari dengan menu yang bervariasi.
Di cerita yang saya dengar kali ini, berdasarkan pengamatan dan yang pernah saya alami, kegagalan cinta seperti ini selalu berbuntut dengan rasa perih, sakit, sedih, kecewa... Tak ada kata yang sanggup menghibur karena kita sedang egois untuk minta didengarkan dan mengerti... ( bahkan untuk seseorang yang mengaku sudah dewasa dan mampu bersikap ikhlas ).
Maka saya hanya memilih diam mendengarkan cerita ini bergulir, tetap memejamkan mata, mencoba ikut merasakan kekecewaan si pencerita, mengingat-ingat rasa 3 bulan yang lalu dengan kasus yang sama dan menyimpulkan bahwa untuk mengurangi kekecewaan mungkin semua harus dilewati tanpa pengharapan...just walking without expectation...
Seperti menu makan malam kali ini, saya makan saja ikan bakar yang terhidang di meja, tanpa berharap besok ada menu yang sama lagi, dengan begitu seandainya makan ikan teripun saya masih bisa terima...masih bisa menikmati...
Karena expectation yang berlebihan akan menyakiti kita tanpa kita sadari,
sekali lagi......seperti yang sudah pernah saya alami...

Wednesday, October 29, 2008

BERBURU sebuah KTP

Seumur-umur baru kali ini diriku merasakan susahnya mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk). Dari umur 17 tahun sampe tahun kemaren (artinya KTPku sudah setahun kadaluarsa) aku menikmati enaknya memakai fasilitas channel dari orang tua, kasarannya calo elite, dan ternyata kemudahan selama itu malah menuai kerepotan luar biasa.

Oke begini, orang tuaku pindah ke Semarang tahun lalu, artinya aku harus keluar dari KK (Kartu Keluarga) mereka dan punya KTP & KK baru di Surabaya. Karena dulu kami domisili Waru-Sidoarjo, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah meminta surat pindah resmi dari alamat Waru (alamat lama)...

Well, startnya udah ngga enak nih, mo minta surat aja harus nunggu hampir 2 jam di rumah sekretaris RT (kayaknya tu orang ribet ma printernya deh), trus mo minta stempel ke ketua RT, orangnya pergi ke luar kota, disuruh balik lagi minggu depan, balik lagi minggu depan surat pengantar dari RT beres, eh sekretaris RWnya ada hajatan ke luar kota, bu RT bilang coba lagi aja mbak minggu depan...gimana ngga langsung lemes, jarak dari kantor ke Waru hampir 1 jam, macetnya itu lhoooo... oke minggu depan balik lagi, sekretaris RW ada stempel pun beres tapi sebelumnya sempet ditahan cukup lama di rumah pak ketua RW...gara2 pak ketua ini mempermasalahkan sekretaris RT yang tiba-tiba pake nomor baru di surat pengantar...ya ampuuuuuuuuuun...meneketehe!!! ada apa dengan orang2 ini...

Tau ngga, itu baru intro perjalanan menuju ke pemilikan KTP baru...setelah itu harus ke kelurahan, trus ke kecamatan, kecamatan minta bukti bayar PBB tahun lalu yang jelas-jelas aku ngga punya, trus minta surat kelakuan baik di Polsek Waru. Ke Polsek pun harus riwa-riwi ditambah harus nunggu 2 jam karena di sana lagi ada acara hajatan, suratnya ngga bisa langsung jadi harus balik lagi besoknya. Arrrgggggggggggghhhh....!!!!!!!!!

Surat pindah resmi dari Waru akhirnya jadi juga, dibawa ke Surabaya...ternyata prosesnya juga njlimet !!! Selain berkas-berkas (surat pindah, akte kelahiran, surat keterangan kerja dsb) diwajibkan membawa bibit pohon mangga, kurang lebih setinggi 2 meter (aku juga baru tau kalo ada bibit pohon mangga sebesar itu) katanya sih untuk penghijauan, satu pohon satu jiwa....ya sudahlah ta beliin aja di pasar bunga..

Mendekati tahap akhir di kecamatan dan dispenduk Surabaya, ada masalah lagi karena mereka menemukan dataku masih nyantol di kecamatan Gayungsari Surabaya, rumah kita yang lama (padahal kita pindah dari rumah itu ke Waru sudah 13 tahun yang lalu). Oke, langsung minta surat keterangan pindah lagi di kecamatan Gayungsari, yang ini butuh 2 hari bolak balik plus uang administrasi 40 ribu (padahal tulisan diloket klo g salah cuma 25 ribu)..ya sudahlah daripada rame...kasih daaaaaah..

Ternyata di kecamatan Gayungsari ditemukan berkas keterangan surat pindah atas nama bapakku ke Semarang....ya ampun...ya ampun...ya ampun....berarti dataku tercantum alias nyantol juga di Semarang....sabar..sabar... bapakku toh mau ngebantuin ngurus surat keterangan pindah dari Semarang ke Surabaya....bereslah itu...




Ini semua karena Perda baru yang aku baca sambil menggerutu di poster kecamatan Gayungsari, dimana ada program KTP nasional, 1 orang 1 KTP dengan sistem online (computerize) di seluruh Indonesia, ya mungkin seperti ID card negara bagian di luar negeri, trus bagi yang punya KTP dobel bakal kena denda 25 jeti..hah!!???
Makanya dibutuhkan surat keterangan pindah dari alamat lama biar data kita bisa dihapus dan diganti data baru di alamat yang baru....

Ternyata butuh waktu 3 bulan, biaya operasional, bolak balik bolos kerja, menahan emosi, rendah hati dan kesabaran tingkat tinggi untuk mengurus sebuah KTP dari uraianku yang singkat plus amburadul tadi...
Dan hari ini, cuma 1 sms pendek dari kakak yang membuatku seperti melayang-layang gembira di udara dan menari-nari mengelilingi patung Tottenham seperti Hiawatha, isinya “ Lin, selamat ya KTPmu sudah jadi...horeeeeeeeeeeeee !!!”
Trus aku jawab “horeeee...akhirnya bisa ikut undian berhadiaaaaaaaah...!!!!!!!”
Finally, aku diakui juga oleh negara ini...hidup Indonesia !!!


* Pembuatan KTP Nasional adalah untuk menyeragamkan desain/bentuk, elemen data dan penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang berlaku sebagai pengenal tunggal sebagaimana diatur dalam Kepmendagri Nomor 94 Tahun 2003.